4 November 2008, buat sebagian orang mungkin adalah tanggal dan bulan yang biasa saja. Biasa untuk dilewati, dan biasa untuk dilalui. Begitu saja, tanpa kesan, tanpa pesan, dan tanpa harapan.
Buat Rana, 4 November adalah hari penentuan hidup yang akhirnya ia putuskan, namun juga ia simpan dalam kesunyian. Dan tiap tanggal 4 November, buat Rana hidup seperti air yang mungkin akan mengalir ke muara, atau terus mencapai hulu. Ia tak pernah tahu.
Tanggal dan bulan itu, yang menentukan hidupnya akhirnya menjadi seperti apa. Jiwanya semakin sunyi. Sepi. Tetapi ia tetap berusaha untuk tetap hidup. Di antara harapan yang mungkin telah terkoyak keadaan. Mimpi yang mungkin saja telah tercabik keadaan.
"Tetapi...Tuhan tidak pernah memberi apa yang kita pinta, tetapi ia memberi apa yang kita butuhkan..." kesunyian hati Rana menjerit. Dan...aku tidak pernah butuh untuk keadaan hidup seperti ini. Aku gak butuh kesunyian jiwa yang mencekam seperti ini. Dan aku nggak butuh kepedihan jiwa karena keadaan.
Rana...mencoba memaknai hidup. ia berusaha untuk bertahan dengan keadaan. Meski hatinya menjerit, merintih, dan ...ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya berharap, kelak Tuhan memberikan apa yang dia inginkan. Karena...keinginan itulah adalah kebutuhannya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar